Ruang dan waktu adalah batasan
bagi diri kita, karena sesungguhnya manusia itu terbatas dan karena keterbatasn
itulah yang menjaikan karakter khusu bagi tiap manusia. Manusia dengan ilmu
yang terbatas tak mampu mengetahui apa yang mungkin ada, keculi dia hanya dapat
mengetahui apa yang ada. Berfilsafat adalah olah pikir kita, sehingga filsafat
adalah diri kita, filsafat adalah pikiran kita. Filsafat dapat kita dalam
berbagai ilmu, namun tidaklah sepantasnya filsafat diterapkan dalam ilmu agama,
karena dimensi agama tidaklah hanya menyangkut olah pikir kita, karea agama
juga menyangkut keyakinan kita yang bersumber dari hati kita.
Berfilsafat bisa diterapkan pada
orang dewasa, namun tidak tepat ruang dan waktunya jika filasafat diterapkan
pada anak kecil. Filsafat anak kecil tidak sama dengan filsafat orang dewasa,
karena dunianya berbeda. Ketika sesuatu tidak di tempatkan pada ruang dan waktu
yang tepat maka yang terjadi adalah gangguan dan ketidakadilan. Ibarat baju
ukuran dewasa yang diberikan kepada anak kecil, maka akan menjadi sia-sia
karena tidak dapat digunakan. Ketika mengajarkan integral kepada anak kecil,
maka bukan paham yang didapat namun malah kebingungan yang ada, sehingga semua
itu harus sesuai dengan ruang dan waktunya.
Berfilsafat juga melatih kita
untuk berfikir lebih kritis dan siap mengenali lebih jauh apa yang ada di
sekeliling kita. Kita bisa menentukan jalan mana yang harus kita ambil karena
banykanya rintangan yang ada di hadapan kita, ibarat ikan yang mampu menilai
dengan sensornya tentang air yang muali masuk ke habitatnya, apakah yang masuk
ke dalam habitat airnya sehingga dapat membahayakan dirinya, dan akhirnya dia
dapat menghindari dengan berlindung atau mengikuti arus lain yang baik
untuknya. Apalagi dengan manusia dengan segala kelengkapan pikiran dan hatinya,
bisa berfikir jernih dan kritis serta berhati yang bersih sehingga stigma yang
positif muncul dan menuntun untuk menjadi lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar