Tindakanku tak mampu menggapai tulisanku,
tulisanku tak mampu menggapi kata-kataku, kata-kataku tak mampu menggapai
pikiranku, pikaranku tak mampu menggapai perasaan ku. Dalam suatu waktu kita
dapat melihat banyak tulisan, baik undangan, buku, koran maupun yang lainnya, namun
tak semua tulisan yang ada dapat baca dalam suatu waktu secara bersamaan, maka
haruslah ada yang dahulu nomor dua, tiga dan seterusnya, karena jika semuanya
bersamaan mustahil hal itu terjadi dengan keterbatasan kita sebagai manusia. Tulisanku
tak mampu menggapai kata-kataku, jelaslah ketika seorang yang sedang berbicara,
maka tak mampulah orang lain yang mendengar mampu menuliskan semua yang
dikatakan, karena keterbatasan kecepatan tangan manusia dalam menuliskan. Kata-kataku
tak mampu menggapai pikiranku, dalam suatu waktu kita dapat berpikir banyak
hal, namun untuk mengungkapkannya kita juga tak mungkin bersamaan ada yang
lebih prioritas di antara semuanya. Begitupun dengan pikiran kita yang tak
mampu menggapai perasaan kita yang berbagai macam. Perasaan yang bermacam-macam
berkecamuk di dalam hati yang kemudian terolah dalam pikir.
Semua keterbatasan bukanlah tanpa
suatu alasan, keterbatasan yang dimiliki manusia sebagai subyek dalam ruang dan
waktu merupakan ciri khusus dari dirinya, apa yang kita lakukan, apa yang kita
kerjakan adalah perbuatan dan sikap kita, olah pikir kita dan itulah diri kita,
maka itulah yang menjadi keunikan kita. Keterbatasan kita membuat kita berbeda
dengan yang lain, jika semua nya sama, umum, maka apa yang membedakan kita
dengan yang lain? Subhanallah, Allah telah menciptakan hamba-Nya yang bersuku
suku dan berbangsa-bangsa ini dengan segala ciri khas kita. Maka patutlah kita syukuri
dengan semua yang ada, Syukur Ikhlas Sabar, maka akan menjadikan kita lebih
baik, Fabiayyi Aalai robbikuuma tukadzibaan(maka nikmat Tuhan-Mu yang manakan
yang kamu dustakan?) semoga kita selalu berada dalam jalan yang di ridhoi Allah
SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar