Sabtu, 18 Oktober 2014

Berpasangan



Setiap yang ada di muka bumi ini Allah ciptakan berpasang–pasangan, ada siang dan malam, matahari dan rembulan, laki–laki dan perempuan, orang tua dan anak, murid dan guru, idealisme dan kenyataannya, dan masih banyak lagi. Begitu juga dalam ruang lingkup filsafat, yang ada dan yang mungkin ada, tesis dan antitesis, yang saling berpasangan. Setiap yang berpasang–pasangan saling melengkapi. Murid yang membutuhkan guru dalam belajar, anak yang jelas membutuhkan orang tua.
Dalam mencapai sesuatu kita membutuhkan membutuhkan bimbingan dan bantuan orang lain. Untuk mencapai pengetahuan umum, kita dapatkan bantuan dari dosen dan guru yang mengajari kita, yang mentransfer ilmunya yang membimbing kita sehingga kita menjadi mengetahui dan menjadi lebih baik serta meraih apa yang kita inginkan. Ketika ingin memperdalam spiritualitas kita, maka kita membutuhkan orang yang lebih dekat kepada Allah, seperti para ulama’, kyai, dll.
Ketika seorang murid mendapatkan apa yang ia inginkan kemudian ia menjadi apa yang dia harapkan, maka dia mendapatkan sintesis dari dirinya (tesis) dan dari guru/dosennya(antitesis). Murid yang kemudian menjadi besar, tak akan bisa mengahpus jejak dibelakangnya yang menjadika ia besar, ia akan membesarkan guru/dosen yang telah mengajarinya, seperti plato yang besar karena muridnya yaitu aristoteles. Apa  yang disampaikan adalah hasil olah pikir dirinya, hasil filsafat dirinya yang didapatkan dari pengalaman, pengetahuan oleh guru/dosen yang mengajarinya, sehingga nama besarnya pun selalu membawa nama besar guru/dosennya. Sehingga benarlah antara tesis dan antitesis akan selalu menghasilkan sintesis dan sintesis yang baik akan diterapkan dengan baik pula sesuai ruang dan waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar