Setiap yang ada di muka bumi ini
Allah ciptakan berpasang–pasangan, ada siang dan malam, matahari dan rembulan,
laki–laki dan perempuan, orang tua dan anak, murid dan guru, idealisme dan
kenyataannya, dan masih banyak lagi. Begitu juga dalam ruang lingkup filsafat,
yang ada dan yang mungkin ada, tesis dan antitesis, yang saling berpasangan.
Setiap yang berpasang–pasangan saling melengkapi. Murid yang membutuhkan guru
dalam belajar, anak yang jelas membutuhkan orang tua.
Dalam mencapai sesuatu kita
membutuhkan membutuhkan bimbingan dan bantuan orang lain. Untuk mencapai
pengetahuan umum, kita dapatkan bantuan dari dosen dan guru yang mengajari
kita, yang mentransfer ilmunya yang membimbing kita sehingga kita menjadi
mengetahui dan menjadi lebih baik serta meraih apa yang kita inginkan. Ketika
ingin memperdalam spiritualitas kita, maka kita membutuhkan orang yang lebih
dekat kepada Allah, seperti para ulama’, kyai, dll.
Ketika seorang murid mendapatkan
apa yang ia inginkan kemudian ia menjadi apa yang dia harapkan, maka dia
mendapatkan sintesis dari dirinya (tesis) dan dari guru/dosennya(antitesis).
Murid yang kemudian menjadi besar, tak akan bisa mengahpus jejak dibelakangnya
yang menjadika ia besar, ia akan membesarkan guru/dosen yang telah mengajarinya,
seperti plato yang besar karena muridnya yaitu aristoteles. Apa yang disampaikan adalah hasil olah pikir
dirinya, hasil filsafat dirinya yang didapatkan dari pengalaman, pengetahuan
oleh guru/dosen yang mengajarinya, sehingga nama besarnya pun selalu membawa
nama besar guru/dosennya. Sehingga benarlah antara tesis dan antitesis akan
selalu menghasilkan sintesis dan sintesis yang baik akan diterapkan dengan baik
pula sesuai ruang dan waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar